Apakah anda pernah melihat sekelompok anak SMP atau SMU yang memenuhi pinggiran jalan raya sambil bersemangat membuat kabut asap dari sebatang rokok yang mereka hisap?. Pasti diantara anda ada yang sering melihatnya, ada yang hanya beberapa kali saja, atau bahkan ada juga diantara anda yang sama sekali belum pernah melihatnya. Meskipun demikian, pada kenyataannya hal tersebut seperti sudah menjadi pemandangan rutin yang mau tidak mau harus kita nikmati tiap kali melewati tempat remaja-remaja itu berkumpul, di siang hari hingga menjelang sore. Diantara anda pastinya ada yang sangat merasa terganggu dengan hadirnya pemandangan tersebut di dalam kehidupan anda sehari-hari. Namun, tak banyak dari anda yang melakukan upaya tindak lanjut akan hal ini terhadap mereka. misalnya dengan sekedar menegur atau memperingatkannya. Karena, mungkin yang ada di benak anda adalah kemungkinan kecil akan di terima atau mendapatkan tanggapan poisitif dari mereka, yang akhirnya membuat anda mengurungkan niat baik itu.
Sama halnya seperti yang dialami oleh ibu Siti, yang terpaksa harus mengalami pengalaman tersebut ketika mencoba menegur Siswa-siswa SMU yang selalu mangkal di depan pagar rumahnya, lantaran sekolah mereka berada tepat di depan rumah ibu Siti. Setiap hari, sekitar pukul 11.00 siang, ia harus mengorbankan waktu tidur siangnya karena keramaian anak-anak SMU yang selalu berkumpul di depan pagar rumahnya, tak hanya itu, ia pun harus menghirup polusi yang berasal dari asap rokok yang mereka hisap. Awalnya, ia masih membiarkan remaja-remaja itu merokok dengan bebas di sekitar rumahnya, tapi, semenjak ia dinyatakan positif memiliki sedikit masalah pada saluran pernafasannya, akhirnya ia pun mulai bertindak dengan mencoba menegur dan memperingatkan mereka, walaupun tak ada hasil yang ia dapat, remaja-remaja itu hanya menanggapnya sebatas teguran ringan semata. ”Menegur mereka, tidak ada bedanya dengan “ngoceh” pada batu nisan” itulah ungkapan kekesalan ibu Siti.
Biasanya, jika sudah begitu, yang kena imbasnya adalah peran orang tua sebagai pendidik utama anak-anaknya. Karena, orang tua dianggap gagal dalam memberikan arahan dan bimbingan pada anak-anaknya. Padahal, tidak sepantasnya orang tua selalu di salahkan dalam hal ini, Karena pada kenyataannya ada bebarapa orang tua yang tidak mengetahui prilaku buah hatinya di luar rumah, Di sekolah misalnya. Atau ada pula orang tua yang sudah mengetahui prilaku anaknya yang merokok di sembarang tempat, namun ia sudah kehabisan akal untuk membuat anaknya mengerti mengapa orang tua akan selalu banyak bicara dan menasehati ketika melihat anaknya merokok. Sehingga ia memilih anggapan bahwa suatu saat nanti anaknya akan mengerti dengan sendirinya.
Menurut data yang di dapat, ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa remaja merokok, diantaranya adalah :
Salah satu atau kedua orang tua dalah perokok.
- Orang yang mereka idolakan adalah perokok
- Mereka akan merasa di terima teman-teman sebayanya jika merokok.
Kampanye rokok gencar menyebut merokok itu keren.
Remaja merasa hebat dengan merokok dan punya keyakinan mereka bisa saja berhenti merokok jika mereka mau.
Selain itu, tak jarang mereka mendengar cerita bohong dari teman mereka bahwa rokok bisa menurunkan berat badan atau mengurangi stres.
Merokok dianggap tantangan karena ada anggapan kegiatan ini dilakukan orang dewasa meski sebetulnya terlarang.
Karena itu, meski orang tua sudah berupaya menjaga anak, tetap saja bisa tergoda. Memarahi atau memberikan hukuman kapada anak tidak serta-merta bisa menhentikan kebiasaannya merokok. Sebaiknya orang tua menanggapinya dengan kepala dingin dan menjelaskan secara baik-baik risiko dan dampak buruk yang di timbulkan dari rokok.
Bukan ancaman baru, bahwa merokok dapat di sebut sebagai “jembatan kematian”, karena akibat yang di timbulkan lebih banyak ketimbang pemakaiannya. Banyak penyakit yang akan menjangkit tubuh kita. Seperti ganguan pada saluran pernafasan (Astma), jantung, bahkan dapat menunjang perkembangan kanker pada rahim atau janin, serta gangguan serius lainnya.
Ada juga akibat-akibat fatal lainnya yang di timbulkan dari rokok, seperti pelebaran pembuluh darah yang mengakibatkan rawan terkena penyakit diabetes. Kerena, 80 % penderita diabetes meninggal karena masalah pembuluh darah. Bahkan remaja penderita atsma-pun cenderung lebih cepat terkena depresi manakala mereka menggunakan obat-obatan terlarang, meminum minuman beralkohol, dan mengisap rokok, begitulah pernyataan Dr. Bruse G. Bender dari University Of Colorado Health and Sciences Center di Denver pada penemuannya.
Oleh sebab demikian, bagi anak yang sudah kecanduan rokok, sebaiknya orang tua bergegas untuk berkonsultasi dengan tenaga medis atau psikolog untuk menjalankan terapi penghentian kebiasaan yang tidak bisa dianggap enteng itu. Karena merokok, bagi remaja, adalah pintu masuk ke prilaku berisiko dan perilaku menyimpang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar