Kamis, 15 Oktober 2009

Krisis Kepemimpinana Di Desa Mandaya Pada Periode 1999-2007

Kepemimpinan merupakan segala prilaku dari seorang individu sebagai pengaruh antar pribadi yang memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesatu tujuan yang ingin dicapai bersama (Share Goal). Itulah salah satu kesimpulan dari beberapa definisi kepemimpinan menurut Garry Yukl (1994 : 2). Dalam kesimpulan definisi tersebut dapat difahami sebuah asumsi bahwa keberadaan seorang pemipin dalam sebuah kelompok merupakan pemegang kendali dari setiap aktifitas-aktifitas kelompok yang menunjang terwujudnya pencapaian tujuan bersama.
Namun tak begitu yang terjadi di salah satu desa yang terletak di kecamatan Carenang yang dikenal dengan hasil padi yang cukup baik, yakni desa Mandaya Kyai. Desa ini mempunyai ceritera tersendiri tentang terbentuknya nama tersebut. Menurut para tokoh masyarakat di desa ini, dahulunya desa ini sangat terkenal religius daripada desa-desa yang lainnya yang ada di kecamatan carenang, karena desa ini dipenuhi dengan para kyai dan beberapa pesantren salafi yang cukup masyhur, dan itu membuat para warga mandaya tahu dan tidak buta akan pengetahuan terutama agama. Oleh karenannya, desa ini di beri nama mandaya kyai berasal dari bahasa jawa serang yang artinya meminta kekuatan pada para kyai.
Namun, setelah para kyai itu satu-persatu gugur dan keberadaan pesantren pun semakin di abaikan, masyarakat menjadi sangat bingung mencari pengganti, maka terpillihlah keturunan salah satu kyai yang sangat mashyur di desa Mandaya, yaitu Kyai Nawawi yang mempunyai cucu bernama Saleh. Pada masa pemerintahan Saleh desa ini bukannya semakin maju, tapi justru semakin terpuruk karena adanya system pemungutan pajak yang tak jelas tujuannya dan tipe kepemimpinan yang menunjuk pada tipe Otokratis. Karena latar belakang pendidikan warga yang masih minim, warga pun hanya bisa menerima kebijakan apapun yang dibuat oleh pemimpinnya yang otoriter itu. Warga desa mandaya terbilang sangat lumpuh dalam hal kepemimpinan, maka wajar saja walaupun kepemimpinan saleh sangat tidak baik, namun ia berhasil menjabat 25 tahun lamanya. Dan inilah rekor tertinggi dalam sejarah kepemimpinan sebagai kepala desa mandaya dari tahun 1974 hingga 1999.
Kemudian warga sudah sedikit berani dan terbuka dalam menerima kriteria pemimpin selain Saleh. Maka pada pemilihan kepala desa pada tahun 1999 terpilihlah bapak wira yang ketika itu berprofesi sebagai guru sekolah dasar yang menjadi pengajar tetap dikelas 1. Sifatnya yang tegas, berwibawa, santun dan humoris membuat warga yakin bahwa dengan tangan beliau desa ini dapat bangkit kembali dari keterpurukan. Mengingat kredibiltas beliau saat menjadi pahlawan tanpa tanda jasa itu.
Memang, harapan tak selalu seindah kenyataan. Pemimpin yang diharapkan warga dapat membawa perubahan yang lebih baik, ternyata tak berbeda jauh dengan kepemimpinan sebelumnya. Dari mulai sikapnya yang maha tahu sehingga sangat jarang memberi kesempatan pada bawahan dan warga pada umumnya untuk mengambil keputusan dan berinisiatif yang membuat daya kreasi warga terhambat dan menjadi tumpul.
Mungkin hal ini terjadi karena melihat dari latar belakang beliau sebagai seorang guru yang selalu bersikap menggurui dan menganggap bawahanya/muridnya sebagai manusia yang tidak dewasa, apalagi pegawai-pegawai yang direkrut olehnya adalah anak-anak dan kerabat dekatnya saja sehingga muncullah sikap terlalu melindungi karena bawahannya dianggap tidak mampu menjaga dirinya sendiri, maka tidak dapat mejadi jaminan mereka dapat melindungi dan menjaga warga yang heterogen dan kompleks. Bahkan dalam kepemimpinan bapak Wira ini pun tetap memungut pajak dari warga namun dalam konteks yang berbeda yakni dengan dalih zakat pertanian yang mematok 3,5 liter beras setiap kepala keluarga. Dan tipe kepemimpinan seperti ini dikenal dengan tipologi pemimpin yang Paternalistis.
Namun, sejak tahun 2007 desa Mandaya terbilang lebih maju dalam berbagai bidang dan sudah mulai dilirik oleh pemerintah sebagai desa yang patut diteliti dalam kemajuan pertanian dan system bermasyarakat dalam kepemimpinan Drs. H. Supandi.S,E Menurut warga, inilah sebuah titik terang dalam system kepemimpinan di desa Mandaya yang sudah memperlihatkan perubahan-perubahan yang lebih baik dalam beberapa sektor. Terutama sektor pertanian dan pendidikan. Karena sejak kepemimpinan beliau lah mulai berdiri Taman Kanak-kanak dan Sekolah khusus orang tua-orang tua yang masih buta huruf dan hadir pula koperasi khusus para petani yang kini masih dalam penyempurnaan struktur. Tak hanya itu, yang sebelumnya pabrik penggilingan padi hanya ada 1 dan letaknya di persawahan sebelah selatan desa, dan kini sudah dibangun 1 pabrik penggilingan padi yang letaknya ditengah-tengah persawahan warga sebelah utara desa. Dan banyak lagi bentuk kemajuan-kemajuan lain yang sudah mulai terasa oleh seluruh warga seperti program perkreditan para petani dan pedagang. Warga berharap hal ini dapat terus meningkat hingga Desa Mandaya kembali menjadi Desa termashyur oleh pandangan desa-desa lain di dalam dan di luar kecamatan carenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar